Camilan seperti kue kering merupakan makanan non -pokok yang terkadang wajib tersedia di rumah, apalagi saat sedang ada tamu berkunjung. Membuat kue kering sendiri bagi sebagian orang juga tidak mudah. Beberapa kesalahan dalam membuat kue kering seringkali membuat kue kering menjadi terlalu keras sehingga susah digigit. Biasanya, kue kering menjadi keras karena adonannya yang kurang pas atau melakukan kesalahan dalam proses membuatnya. Berikut beberapa penyebab yang perlu diketahui agar kue kering yang dibuat tidak keras. 1. Terlalu banyak mengaduk dalam waktu lama Adonan untuk kue kering apabila diaduk lama dengan tenaga yang terlalu berlebihan dapat membuat adonan kue menjadi bantat dan keras. Baca juga: Perbedaan Minyak Sayur dan Minyak Goreng 2. Jumlah telur kurang Telur memiliki fungsi untuk membuat adonan kue kering menjadi lembut. Apabila jumlah telur yang ditambahkan ke adonan kurang, maka akan menyebabkan kue kering yang dibuat mengeras. 3. Terlalu lama memanggang kue Dalam memanggang kue kering, memang seharusnya membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan memanggang kue pada biasanya. Namun, pemanggangan kue juga tidak boleh terlalu lama sehingga membuat kue menjadi terlalu matang, keras, dan bahkan gosong. Idealnya, waktu yang dibutuhkan untuk memanggang kue kering berkisar selama 20 menit dengan suhu sekitar 130-170 derajat Celcius. 4. Menambahkan adonan dengan tepung terigu Ketika membuat adonan kue, biasanya ditambahkan tepung terigu karena adonan yang dibuat terasa melebar. Padahal, tepung terigu yang ditambahkan tersebut tidak harus dilakukan. Caranya, adonan cukup ditempatkan dan didiamkan di atas loyang dalam waktu sekitar 30-60 menit sebelum dipanggang. 5. Terlalu membuat kalis adonan Berbeda dengan adonan roti atau kue lainnya, adonan untuk kue kering ini tidak perlu dibuat hingga menjadi kalis. Adonan kue kering ini justru lebih baik dibiarkan lebih lembek agar nantinya ketika kue sudang matang tidak terlalu keras. 6. Takaran bahan yang kurang pas Umumnya, ketika membuat kue maka dibutuhkan beberapa alat pengukur seperti timbangan atau gelas ukur guna mempermudah dalam menakar bahan. Penakaran bahan-bahan yang tepat akan membuat proporsi bahan dalam adonan kue menjadi pas. Apabila komposisi bahan yang digunakan melebihi atau kurang dari takaran seharusnya, tentu bisa menyebabkan adonan kue kering menjadi terlalu lembek, alot, atau bahkan gagal jadi. Untuk itu, ketika membuat kue kering ini perlu memperhatikan berbagai aspek terutama dalam proses pembuatan adonannya dan bahan-bahan yang digunakan. Bahan-bahan berkualitas yang digunakan dalam membuat kue kering sangatlah diperlukan karena memiliki standar dan mutu yang terjamin, contohnya seperti beberapa produk bahan kue dari Global Solusi Ingredia. Global Solusi Ingredia merupakan perusahaan penyedia bahan-bahan makanan yang telah mendominasi industri bahan makanan saat ini. Produk yang dijual juga telah tersertifikasi ISO 9001 dan berlabel Halal sehingga terjamin mutu dan kualitasnya. Baca juga: Emulsifier, Apakah Halal Atau Haram? Adapun untuk bahan-bahan kue, Global Solusi Ingredia memiliki beragam kategori produk mulai dari pengembang adonan, lemak, topping powders , pengemulsi, dan lainnya. Pengemulsi merupakan bahan terpenting dalam adonan kue karena membuat kue menjadi lembut dan mengembang. Beberapa produk pengemulsi dari Global Solusi Ingredia di antaranya, GLYCEROL MONOSTEARATE (GMS-SE), DISTILLED MONOGLYCERIDES (DMG), GLYCEROL MONOOLEATE (GMO), POLYOXYETHYLENE SORBITAN MONOOLEATE (Polysorbate 80), CITRIC ACID ESTERS OF MONO AND DIGLYCERIDES (CITREM), dan POLYGLYCEROL POLYRICINOLEATE (PGPR). Produk-produk tersebut juga telah tersertifikasi sehingga tidak perlu diragukan keamanan dan kehalalannya. Membuat kue berbahan produk Global Solusi Ingredia, hasil kue bertekstur lembut dan terasa kelezatannya.
Banyak terjadi perdebatan terkait dengan emulsifier apakah zat itu dicap halal atau haram. Apakah emulsifier itu sendiri? Emulsifier adalah zat kimia yang membuat lemak terdispersi dalam air atau tetesan air yang terdapat dalam lemak atau minyak. Pengemulsi digunakan dalam makanan yang mengandung lemak (atau minyak) dan air. Contoh pengemulsi adalah lesitin, mono dan digliserida. Pengemulsi dapat dibuat dari sumber hewani atau nabati. Apa itu emulsifier Emulsifier sumber hewani dinilai lebih berpotensi menimbulkan sifat haram daripada halal. Alasannya ialah, ketika dibuat dari sumber hewani, pengemulsi cenderung mengandung kandungan dari tulang hewan. Jikalau hewan tersebut ialah hewan halal dan disembelih dengan cara halal, maka hukumnya ialah halal. Namun, seringkali kita tidak mengetahui hewan apa yang dipakai sebagai bahan dasar pengemulsi tersebut. Sumber emulsifier Berbeda dengan tanaman, pengemulsi berbahan dasar tanaman lebih dicap kehalalannya. Hal ini karena tanaman tidak dibatasi masalah halal dan haramnya. Oleh karenanya, apabila pengemulsi atau emulsifier dibuat dengan sumber dari tanaman, maka bisa dipastikan halal, karena tidak melalui proses penyembelihan. Baca juga: Emulsifier Pada Minuman, Amankah untuk Kesehatan? Contoh emulsifier berbahan nabati Terdapat beberapa contoh emulsifier. Contoh yang pertama ialah lesitin. Lesitin adalah campuran lemak yang penting untuk sel-sel dalam tubuh manusia. Ini dapat ditemukan di banyak makanan, termasuk kedelai dan kuning telur. Dalam makanan, lesitin adalah sumber utama kolin, nutrisi yang mirip dengan vitamin B. Lesitin diubah menjadi asetilkolin, zat yang mentransmisikan impuls saraf. Orang menggunakan lesitin untuk penyakit Alzheimer dan demensia, penyakit parkinson, dan banyak kondisi lainnya, tetapi tidak ada bukti ilmiah yang baik untuk mendukung penggunaan ini. Dengan fakta ini, jika menemukan pengemulsi dengan kandungan lesitin, maka dapat dipastikan halal. Contoh emulsifier berbahan hewani Contoh yang kedua ialah mono dan digliserida. juga disebut mono- dan digliserida asam lemak, jenuh atau tidak jenuh, adalah campuran monogliserida (umumnya dengan 40-90%) dan digliserida, dan juga termasuk sejumlah kecil trigliserida. Ini adalah pengemulsi yang paling banyak digunakan dalam makanan dan dengan nomor aditif makanan Eropa E471. Bahan baku utama yang terlibat dalam produksi mono dan digliserida adalah asam lemak dan gliserol, keduanya secara alami terdapat dalam lemak/minyak nabati dari hewan (misalnya sapi, babi) dan sayuran (berbagai biji tanaman). Untuk halal atau tidaknya, contoh emulsifier jenis ini beresiko haram, karena mengandung potensi sumber hewani yaitu babi. Dimana sumber hewani dari babi merupakan zat yang haram dalam islam walaupun konsentrasinya kecil. Untuk itu, dari kedua jenis diatas, emulsifier yang memiliki kemungkinan lebih tinggi haramnya ialah monogliserida. Hasil penelitian Menurut penelitian dari Universitas Putra Malaysia, status kehalalan emulsifier E471 menjadi dipertanyakan, jika sumber asal nabati atau hewani tidak disebutkan dalam label. Isu ini menjadi semakin penting mengingat banyak isu baru-baru ini terkait dengan penggunaan emulsifier E471 dalam produk makanan tertentu seperti kopi dan mayones. Juga, ada beberapa spekulasi bahwa E471 di beberapa merek komersial cokelat bisa jadi emulsifier yang berasal dari hewan. Dalam kasus seperti ini, mungkin perlu memiliki metodologi analitis yang dapat membantu melacak sumber asal emulsifier. Baca juga: Jenis Emulsifier yang Biasa Digunakan untuk Industri Makanan Kesimpulan Kesimpulannya, pembeli bahan makanan atau produsen kue, harus sangat jeli dalam melihat kandungan atau komposisi dari bahan tersebut. Karena jika ada kesalahan sedikit saja, bisa menimbulkan keputusan yang fatal apakah halal atau tidak. Namun walau begitu, pembeli dapat melihat logo halal atau haram yang telah diberi cap oleh Majelis Ulama Indonesia. Sehingga, pembeli tidak perlu kuatir dalam memilih produk emulsifier. Salah satu sumber untuk membeli emulsifier halal adalah melalui GSI. GSI adalah salah satu produsen bahan makanan halal yang menjamin produk emulsifier bebas bahan hewani. Emulsifier dijamin halal dikonsumsi karena sudah didukung oleh BPOM dan MUI.
Siapa sih yang tak kenal dengan minyak sayur? Banyak yang salah paham dengan minyak sayur. Pasalnya mereka yang masih awam cenderung menyamakan antara minyak sayur dengan minyak goreng. Lalu apakah keduanya sama? Sebenarnya minyak sayur terbuat dari apa? Bagi yang penasaran dengan fakta minyak sayur dan perbedaannya dengan minyak goreng, Anda bisa cek di artikel ini hingga tuntas sebelum beralih. Banyak iklan di televisi yang menyebut bahwa minyak sayur dan minyak goreng adalah dua hal yang sama. Padahal keduanya jelas berbeda. Berikut beberapa hal yang menjadi pembeda antara minyak sayur dan minyak goreng : 1. Minyak Sayur Merupakan Jenis Minyak Goreng Bagi yang tanya, minyak sayur terbuat dari apa, minyak sayur atau yang juga dikenal dengan sebutan minyak nabati merupakan jenis minyak yang terbuat dari ekstrak berbagai tumbuhan. Misalnya seperti buah-buahan, biji-bijian hingga daun. Baca juga: Jenis Emulsifier yang Biasa Digunakan untuk Industri Makanan Yang paling penting untuk Anda ketahui di sini adalah minyak sayur merupakan jenis minyak goreng. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa tidak semua minyak sayur dapat digunakan untuk menggoreng. Sedangkan minyak goreng dapat berupa minyak sayur. 2. Minyak Goreng Hanya Digunakan Untuk Memasak Minyak goreng digunakan untuk memasak bahan makanan atau menggoreng bahan makanan tertentu. Minyak goreng dasarnya memang diolah dari lemak hewani, lemak nabati atau lemak sintesis. Di mana jenis minyak tersebut dapat digunakan untuk menggoreng, memanggang dan keperluan memasak lainnya. Minyak goreng biasanya juga punya aroma yang sangat khas sehingga menambah cita rasa pada makanan. 3. Minyak Sayur Tidak Selalu Digunakan Untuk Memasak Seperti yang sudah disebutkan bahwa minyak sayur merupakan jenis minyak yang terbuat dari ekstrak tumbuhan. Yang tentunya minyak sayur membawa nutrisi serta manfaat tersendiri bagi kesehatan tubuh manusia. Minyak sayur sendiri tidak hanya digunakan untuk memasak. Namun banyak digunakan untuk berbagai keperluan kecantikan hingga kesehatan lainnya. Di pasaran, minyak sayur juga dijual bebas dengan berbagai bentuk. Misalnya ada yang berbentuk minyak utuh dan ada juga yang telah diolah dalam bentuk lainnya. Contohnya, minyak sayur dapat diolah dalam bentuk parfum, sabun hingga pelembab. Jadi, minyak sayur bukan hanya digunakan untuk memasak. Namun berbagai keperluan lain yang tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang. 4. Jenis Minyak Sayur yang Tidak Dapat Digunakan Untuk Menggoreng Setelah Anda tahu minyak sayur terbuat dari apa, sekarang harus tahu jenis minyak sayur memang tidak dapat digunakan untuk menggoreng. Ada beberapa jenis minyak sayur yang ternyata tidak dapat digunakan untuk menggoreng. Adapun jenis minyaknya sebagai berikut : ● Minyak biji wortel Minyak sayur ini kaya antioksidan, vitamin A dan juga karoten. Jenis minyak ini banyak digunakan untuk kecantikan hingga infeksi pada tenggorokan. ● Minyak alpukat Minyak alpukat adalah salah satu minyak sayur yang tidak cocok untuk digunakan memasak. Pasalnya minyak sayur memang dapat merusak makanan. Hanya saja minyak alpukat sering dijadikan bahan tambahan saos. Baca juga: Emulsifier Pada Minuman, Amankah untuk Kesehatan? ● Minyak biji anggur Minyak biji anggur adalah minyak yang sangat tidak disarankan untuk menggoreng. Pasalnya sangat sensitif terhadap panas. Jika tetap dipaksakan untuk menggoreng, nutrisi yang ada di dalam minyak biji anggur ini akan hilang. Bagaimana, sekarang Anda sudah tahu minyak sayur terbuat dari apa bukan? Bagi yang memerlukan minyak sayur, Global Solusi Ingredia adalah solusi yang terbaik. baik. Minyak sayur yang dihadirkan di sini terbuat dari bahan alami sehingga lebih aman untuk dikonsumsi.
Mungkin banyak masyarakat yang sudah tidak asing dengan emulsifier pada minuman dan makanan. Lantas apa sih arti dari emulsifier dan bahannya terbuat dari apa? Bagi yang merasa penasaran, silahkan cek artikel di bawah supaya lebih paham. Tentunya kita tahu bahwa air dan juga minyak tidak akan dapat menyatu meskipun diletakkan di satu wadah yang sama. Dalam kondisi tertentu, banyak pihak yang ingin mencampurkan kedua bahan tersebut. Sayangnya, saat keduanya dicampurkan tentu tidak bisa karena otomatis langsung memisah kembali. Hal tersebut karena ada perbedaan tingkat polaritas pada kedua zat tersebut. Air menjadi molekul yang mempunyai gugus polar. Berbeda dengan minyak yang memiliki gugus non polar. Perbedaan tersebut membuat keduanya tidak dapat menyatu. Pasalnya, gugus polar hanya dapat disatukan dengan gugus polar saja. Begitu juga dengan gugus non polar yang hanya dapat disatukan dengan gugus non polar saja. Jika kedua bahan dapat menyatu, maka pasti ada zat emulsifier pada minuman. Apa itu Zat Emulsifier Pada Minuman Emulsifier atau yang dikenal dengan sebutan zat pengemulsi adalah jenis zat yang sering untuk membantu menjaga kestabilan pada emulsi minyak dan air. Emulsifier sendiri ada yang berbahan dasar dari emulsifier alami dan juga emulsifier buatan (sintetis). Baca juga: Jenis Emulsifier yang Biasa Digunakan untuk Industri Makanan Biasanya emulsifier alami terbuat dari bahan-bahan dari alam. Diantaranya seperti biji kedelai hingga kuning. Di dalam biji kedelai biasanya ada minyak yang tergolong tinggi dan di samping air. Kedua tadi dihubungkan zat yang bernama lecithin. Bahan ini yang diambil atau diekstrak dan dijadikan sebagai bahan emulsifier yang selanjutnya dapat digunakan untuk mengolah berbagai produk olahan di pasar. Selain biji kedelai, Lechitin juga ada di biji-bijian lain serta produk hewani seperti otak dan telur. Selain itu, emulsifier alami juga sering ditemukan pada tepung kanji dan juga susu bubuk. Tepung kanji termasuk jenis emulsifier yang paling bagus digunakan untuk makanan. Tak hanya tepung kanji, bahan lain yang dapat digunakan adalah tepung sagu. Emulsifier Pada Minuman Dari Bahan Buatan Selain emulsifier yang terbuat dari bahan alami, ternyata ada juga emulsifier yang terbuat dari bahan buatan alias rekayasa manusia. Yang tentunya tujuannya untuk menghasilkan jembatan di antara minyak dan juga air. Meski dikenal sebagai sintesis, tidak semua bahan merupakan bahan buatan. Ada juga bahan yang terbuat dari bahan alami. Contohnya, lemak atau minyak yang merupakan trigliserida dengan satu gugus gliserol. Di mana gugus ini mempunyai tiga tangan. Tiga tangan tersebut masing-masing dikaitkan dengan asam lemak. Sehingga jadilah sebuah Momo serta digliserida yang selanjutnya berfungsi untuk penghubung antara air dan juga minyak. Yang selanjutnya dikenal dengan emulsifier sintetis. Bahan buatan manusia tersebut terbuat dari lemak yang telah direkayasa. Sedangkan sumber lemak sendiri dapat bermacam-macam. Ada yang terbuat dari sintesis atau minyak bumi dan ada juga terbuat dari lemak nabati (tumbuhan) serta hewani. Baca juga: Cari Tahu Perbedaan Agar-Agar, Jelly, dan Puding agar Tidak Salah Sebut Lagi Apakah Emulsifier Pada Minuman Itu Aman? Pertanyaannya sekarang adalah apakah emulsifier pada minuman itu aman untuk dikonsumsi? Jawabannya jelas sangat aman karena dibuat khusus dengan metode yang tidak membahayakan tubuh manusia. Apakah emulsifier ini halal untuk dikonsumsi? Belum tentu karena tergantung pada sumber minyak yang digunakan. Bagi yang membutuhkan emulsifier pada minuman yang aman dan halal, Global Solusi Ingredia adalah pilihan tepat. Di sini, Anda dapat menemukan berbagai macam produk unggulan yang terbuat dari bahan alami dan tentunya sangat bagus untuk kesehatan.
Ingin tahu jenis emulsifier yang ada pada makanan? Seperti yang kita tahu, emulsifier adalah salah satu bahan sangat penting untuk diperhatikan. Bahan ini digunakan untuk menyatukan zat yang sebenarnya secara harfiah tidak dapat menyatu. Misalnya seperti minyak dan air yang memang keduanya tidak dapat disatukan. Tapi dengan adanya emulsifier, keduanya dapat menyatu dengan baik. Di pasaran, banyak sekali jenis emulsifier. Adapun jenisnya sebagai berikut : Asam lemak gliserol (Monogliserida, MG) Gliserin merupakan jenis emulsifier yang terbuat dari gliserin yang juga dipadukan dengan minyak hewani atau nabati. Biasanya emulsifier ini dibuat dengan metode interesterifikasi. Gliserin mempunyai tiga gugus hidroksil, yang salah satunya diesterifikasi dengan ester yang dikenal dengan nama Monogliserida dan asam lemak. Baca juga: Cari Tahu Perbedaan Agar-Agar, Jelly, dan Puding agar Tidak Salah Sebut Lagi Asam asetat Monogliserida (Asetat Monogliserida atau AMG) Asam asetat Monogliserida juga disebut sebagai asetat Monogliserida. Jenis emulsifier ini memiliki ciri asam asetat yang terikat langsung dengan Monogliserida. Biasanya jenis emulsifier ini memiliki sedikit aktivitas. Hanya saja ada banyak karakteristik serta bidang aplikasi yang dibenamkan di sini. Misalnya Monogliserida asetat dapat mengembang 8 kali dengan tegangan tertentu. Ester Asam Laktat Monogliserida (Latyated Monoglyceride, MG) Ester asam laktat Monogliserida merupakan jenis Monogliserida yang terlaktilasi. Yang mana asam laktat terikat penuh dengan Monogliserida. Ciri khas emulsifier ini adalah punya kemampuan berbusa yang lebih unggul dibanding emulsifiernya. Biasanya hal ini sering digunakan dalam hal shortening untuk membuat kue, pembusaan untuk membuat kue sendiri atau dikombinasikan dengan Monogliserida seperti biasanya. Asam suksinat dari Monogliserida (SMG) Ester asam suksinat yang didapat dari Monogliserida juga sering disebut sebagai suksinilasi Monogliserida. Yang mana asam suksinat yang ada di dalamnya terikat dengan Monogliserida. Biasanya aktivitas tersebut telah terdipresi antara air dingin dan panas. Yang kemudian larut dengan minyak dan lemak. Mengingat sifatnya yang tahan asam dan hidrofilik, biasanya sering digunakan untuk emulsifier margarin, dressing dan mayonaise. 5. Poligliserol Ester Asam Lemak (PGE) Ester poligliserol yang ada pada asam lemak juga sering disebut sebagai ester poligliseril. Jenis Emulsifier yang mana asam lemak didalamnya terikat pada esterifikasi pada poligliserin. Biasanya langsung terdispersi pada air dan kemudian larut dalam minyak. Hidrofilisitas serta lipofilisitasnya dapat berubah sesuai dengan derajat polimerisasi serta jenis asam lemak yang digunakan. HLB yang dibutuhkan biasanya berkisar 3 sampai 13. Sorbitan Ester Asam Lemak (Sorbitan Ester) Ester sorbitan asam lemak juga disebut sebagai ester sorbitan. Biasanya diproduksi esterifikasi sorbitol yang selanjutnya dipadukan dengan asam lemak. Jenis emulsifier ini dihasilkan dari campuran ester sorbitol serta ester sorbid, yang diproduksi bersamaan dengan ester sorbitan. Banyak jenis ester sorbitan pada asam lemak dan tingkatan esterifikasi. Umumnya sering digunakan untuk pengemulsi krim atau kebutuhan lainnya. Propilen Glikol Ester Asam Lemak (PG Ester) Ester propilen glikol asam lemak juga sering disebut ester PG. Emulsifier ini terbuat dari propilen glikol serta asam lemak yang selanjutnya dihubungkan dengan ikatan ester serta zat dari inter-esterifikasi yang merupakan campuran monoester dan juga diester. Baca juga: Cek Perbedaan Agar-Agar dan Gelatin untuk Pembuatan Makanan Produk monoester dihasilkan dengan melakukan distilasi molekuler dan juga monogliserida suling. Biasanya hal ini tidak dapat digunakan untuk pengemulsi namun tetap dapat mempertahankan struktur kristal alfa yang ada didalamnya. Sekarang Anda sudah tahu jenis emulsifier. Bagaimana menurutmu? Emulsifier memang banyak dijumpai di sekitar kita. Misalnya untuk pembuatan es krim atau sebagainya. Bagi yang memerlukan produk emulsifier di atas, Global Solusi Ingredia menyediakan semua bahan tersebut secara lengkap. Dilengkapi dengan izin BPOM, membuat jenis emulsifier yang dijual di sini lebih aman dan tidak membahayakan tubuh.
Seringkali kita salah menganggap bahwa agar-agar, jelly, dan puding adalah makanan yang sama. Padahal tidak lho! Namun, memang dari segi rasa, tekstur, dan tampilannya serupa. Baik agar-agar, jelly, dan puding sama-sama hidangan penutup. Ketiganya terbuat dari bahan yang sama, yaitu rumput laut atau gelatin. Maka tidak heran jika tekstur kenyal mereka tidak berbeda. Kadar serat dan kandungan air pada makanan tersebut juga sama tinggi. Yang seperti kita ketahui bahwa serat dan kandungan air yang tinggi sangat baik untuk pencernaan. Akan tetapi, ada perbedaan agar-agar dan jelly yang perlu Anda tahu. Anda bisa membaca informasinya berikut ini. Agar-Agar Walaupun agar-agar teksturnya kenyal seperti jelly, namun agar-agar tidak sekenyal jelly. Agar-agar terbuat dari rumput laut atau alga merah sebagai bahan dasarnya. Yang kemudan bahan utama tersebut diolah menjadi bubuk. Baca juga: Cek Perbedaan Agar-Agar dan Gelatin untuk Pembuatan Makanan Untuk menjadikannya seperti agar-agar yang Anda makan, Anda perlu menambahkan air, gula, lalu memasaknya di atas kompor hingga mendidih lalu mendinginkannya hingga padat. Anda juga bisa menambahkan potongan buah-buahan untuk menambah cita rasa dari agar-agar itu sendiri. Agar-agar mudah hancur jika terkena goncangan atau ketika disentuh. Warnanya juga lebih transparan walaupun untuk beberapa warna agar-agar tidak demikian. Jika Anda perhatikan, agar-agar lebih padat dan renyah saat dimakan. Jelly Bahan pembuatan jelly sama dengan agar-agar yaitu dari rumput laut. Akan tetapi, pada jelly terdapat campuran umbi konyaku atau biasa dikenal dengan konjac. Konjac sendiri adalah umbi-umbian yang tumbuh di beberapa bagian Asia. Konjac adalah pengganti gelatin yang berfungsi untuk mengentalkan dan menambah tekstur. Tekstur jelly sangat kenyal jika dibandingkan dengan agar-agar. Jika dilihat mungkin tampak sama, tapi Anda bisa mengetahui perbedaannya ketika memakannya. Cara pengolahan jelly tidak berbeda dengan agar-agar yaitu dimasak dengan campuran air dan gula hingga mendidih. Ada juga jelly yang bahan dasarnya dari gelatin. Gelatin sendiri terbuat dari kolagen yang berasal dari kulit, tulang, dan jaringan ikat hewan. Puding Selain agar-agar dan jelly ada juga yang namanya puding. Secara tampilan, puding sangat berbeda dari agar-agar dan jelly karena terlihat lebih pekat. Untuk membuat puding, bahan yang digunakan adalah campuran jelly, agar-agar, santan, susu, telur, dan santan. Bahan yang beraneka ragam ini membuat rasa puding tidak sama dengan agar-agar dan jelly. Rasanya lebih kaya, lebih lembut di mulut, dan tidak sekenyal jelly atau agar-agar. Anda bisa menikmati puding dengan topping buah-buahan seperti berry atau dengan susu, yoghurt, dan coklat. Ketiganya merupakan sajian yang pas untuk dinikmati saat musim panas karena kandungan airnya yang tinggi. Selain itu, untuk menambah sensasi segar pada agar-agar, jelly, dan puding, Anda bisa menyimpannya ke dalam kulkas dan disajikan saat dingin. Sedangkan untuk agar-agar, ada yang menyajikannya beku lalu diserut dan dicampurkan ke dalam es sirup. Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Susu yang Baik untuk Kesehatan Saat ini sudah tersedia agar-agar plain atau tanpa rasa. Agar-agar ini cocok untuk Anda yang ingin berkreasi dengan penambahan rasa lain. Untuk variasi rasa, Anda bisa memilih salah satu produk di Global Solusi Ingredia, seperti almond flavouring, brown sugar flavouring, blueberry flavouring, dan masih banyak lagi lainnya. Produk flavouring yang tersedia di GSI tidak hanya untuk menambah rasa pada agar-agar dan jelly Anda, akan tetapi juga bisa digunakan untuk bakery, diary, dressing, dan makanan lainnya. Anda bisa melihat produknya di laman resmi Global Solusi Ingredia . Semua produk GSI aman untuk dikonsumsi karena sudah mendapatkan izin edar dari BPOM RI dan dijamin halal karena telah mengantongi sertifikat halal MUI. Untuk itu, mulai sekarang, ganti bahan pangan Anda dengan produk dari GSI yang aman dan halal serta berkualitas internasional.