Anda tentu sudah familiar dengan yoghurt, bukan? Minuman fermentasi yang satu ini menjadi salah satu minuman yang cukup disarankan untuk dikonsumsi secara teratur. Pasalnya, minuman ini memiliki kemampuan yang ajaib untuk menyehatkan sistem pencernaan dan tubuh secara umum. Meskipun hadir dalam beragam variasi rasa, namun jika dilihat dengan saksama, yoghurt memiliki rasa asam. Rasa asam ini didapatkan dari proses fermentasi gula laktosa yang terdapat pada produk susu. Nah, meskipun proses fermentasi tersebut bisa dilakukan dengan baik, tidak jarang yoghurt mengalami kerusakan fisik, baik ketika proses produksi ataupun ketika penyimpanan. Hal inilah yang membuat emulsifier diperlukan dalam proses pembuatan yoghurt. Apa yang Menyebabkan Kerusakan Fisik Yoghurt? Seperti yang disinggung di awal, yoghurt bisa mengalami kerusakan fisik bagi ketika saat proses pembuatan ataupun selama penyimpanan. Salah satu penyebab kerusakan yoghurt adalah munculnya sineresis akibat fermentasi yang tidak tepat. Baca juga : Cara Membuat Bolu yang Tidak Lengket di Loyang Selain itu, tingkat viskositas yang rendah serta adanya penurunan pada kemampuan daya ikat air juga menjadi biang dari kerusakan fisik yoghurt tersebut. Jika hal ini terjadi, kualitas yoghurt akan menurun. Tidak hanya itu, produk yoghurt yang dihasilkan pun nantinya tidak akan memiliki manfaat sebagaimana produk yoghurt yang memiliki kondisi baik. Penggunaan Emulsifier Dalam Pembuatan Yoghurt Adanya ketidakstabilan dalam proses pembuatan yoghurt membuat kualitas dari minuman fermentasi ini menurun dan tidak memiliki manfaat sebagaimana seharusnya. Oleh karenanya, upaya untuk menstabilkan proses pembuatan yoghurt dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada yoghurt ketika proses pembuatan atau penyimpanan adalah dengan melakukan penambahan penstabil atau emulsifier . Produk emulsifier yang digunakan tersebut berfungsi untuk meningkatkan viskositas serta daya ikat air pada bahan pembuatan yoghurt. Selain itu, emulsifier juga berfungsi untuk menurunkan sineresis. Penstabil atau emulsifier sendiri adalah bahan tambahan pangan yang aman digunakan dan memiliki manfaat untuk menstabilkan, mengentalkan ataupun membuat bahan minuman dan makanan yang dicampur dengan air menjadi lebih pekat sesuai dengan level kekentalan tertentu. Dalam proses pembuatan yoghurt, emulsifier yang ditambahkan ditujukan untuk mengikat lemak susu dan air agar tidak terpecah. Dengan demikian, bahan pembuat yoghurt yang digunakan bisa bercampur dengan lebih maksimal sehingga hasil pembuatan yoghurt akan cenderung lebih baik. Juga, produk yoghurt yang dihasilkan pun bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama. Bagaimana Penggunaan Produk Emulsifier Dalam Pembuatan Yoghurt? Sebenarnya, penggunaan emulsifier dalam proses pembuatan yoghurt bisa dikatakan cukup mudah. Hal ini dikarenakan bahan emulsifier tersebut hanya perlu dicampurkan pada campuran bahan yoghurt setelah proses fermentasi dimulai. Hanya saja, produk emulsifier tidak boleh digunakan dalam takaran yang berlebihan. Penggunaan emulsifier dengan takaran yang berlebihan akan memberikan dampak negatif pada produk yoghurt, bahkan tidak mungkin akan menjadi masalah jika dikonsumsi. Baca juga : Apakah Cake Emulsifier Sama dengan Bahan Pengembang Kue Terkait penggunaan emulsifier pada pembuatan yoghurt, standard yang digunakan adalah peraturan yang dibuat oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan nomor 20 tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengemulsi. Oleh karenanya, sebelum Anda membuat yoghurt, perhatikan ambang batas penggunaan emulsifier yang dianjurkan. Tidak hanya itu, Anda juga sebaiknya menggunakan produk emulsifier yang tepat. Pasalnya, jenis produk yang digunakan akan berpengaruh pada hasil yoghurt yang dibuat. Dalam hal ini, untuk mendapatkan hasil yoghurt yang berkualitas dan tahan lama, gunakan produk emulsifier yang disediakan oleh GSI (Global Solusi Ingredia). Cek di sini untuk melihat detail produk yang disediakan.