Memilih jenis minyak essential oil untuk bayi tentunya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Anda harus memilih jenis-jenis essential yang tidak mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Hal ini bertujuan agar tidak memberikan efek samping berbahaya pada kesehatan kulit bayi. Berikut beberapa minyak esensial yang dipercaya aman dan bermanfaat. Lavender Mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan minyak essential yang satu ini. Essential oil lavender dapat Anda gunakan sebagai obat ketika kulit bayi tengah gatal akibat digigit nyamuk atau mungkin jenis serangga yang lainnya. Hal ini karena kandungan lavender yang mampu untuk meredakan rasa gatal. Selain itu, essential lavender juga dapat digunakan sebagai minyak untuk memijat tubuh sang buah hati. Dengan menggunakan essential oil ini, bayi akan merasakan nyaman sehingga bisa tidur lebih lelap. Beberapa studi baru telah membuktikan bahwa lavender juga mempunyai efektifitas yang tinggi dalam mengatasi kolik pada bayi. Baca juga: Ternyata, Ini 6 Manfaat Rosemary dalam Dunia Kesehatan Eucalyptus Radiata Jenis essential yang satu ini mempunyai beragam kandungan yang aman untuk diaplikasikan pada permukaan kulit bayi. Terdapat berbagai studi yang mengklaim, bahwa essential ini mampu untuk melegakan pernapasan pada saat bayi tengah mengalami pilek. Minyak ini hampir mirip dengan minyak kayu putih, manfaatnya pun juga hampir sama yaitu untuk menghindarkan kulit bayi dari serangan gigitan nyamuk. Chamomile Essential oil untuk bayi selanjutnya yaitu chamomile. Minyak essential satu ini merupakan salah satu jenis minyak yang mempunyai sifat lebih menenangkan. Sehingga dengan menggunakan minyak ini, Anda bisa mengatasi masalah sulit tidur pada sang buah hati. Selain itu, minyak esensial chamomile ini juga telah terbukti ampuh untuk menenangkan bayi pada saat sedang rewel. Bahkan campuran minyak chamomile dengan lavender juga bisa Anda gunakan sebagai salah satu cara untuk meredam gejala kolik yang sering dialami oleh bayi. Tea Tree Oil Tea tree oil mempunyai kandungan antimikroba alami dan juga mengandung anti jamur. Mencampur beberapa tetes tea tree oil dengan minyak alami jenis lain bisa membantu Anda dalam mengatasi ruam popok dan juga infeksi bakteri. Akan tetapi, kandungan pada minyak ini tergolong cukup keras. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila Anda melakukan percobaan terlebih dahulu pada sebagian kecil permukaan kulit bayi. Hal ini untuk bisa mengetahui reaksi yang ditimbulkan. Dengan demikian, lebih disarankan untuk menggunakan minyak ini pada bayi dengan usia lebih dari 6 bulan. Baca juga: Industri Minyak Goreng dan Minyak Sayur, Apa Bedanya? Citrus Reticulata Jenis essential oil untuk bayi yang terakhir yaitu citrus reticulata. Kandungan serta kegunaan pada minyak jenis ini hampir sama dengan lavender. Dengan efek yang diberikan mampu untuk menenangkan bayi sehingga dapat membantu Anda untuk mengatasi sulit tidur bayi pada saat malam hari. Dibandingkan dengan jenis minyak essential oil yang lainnya, minyak ini mempunyai aroma yang lebih manis. Sehingga dapat bersifat lebih ramah pada kulit bayi. Itulah beberapa jenis essential oil untuk bayi yang mempunyai kandungan lebih aman untuk kulit bayi yang cenderung lebih sensitif. Anda tidak perlu khawatir untuk bisa mendapatkan minyak ini dengan cara yang mudah. Anda bisa melakukan pemesanan minyak essential oil ini di Global Solusi Ingredia. Perusahaan ini menyediakan berbagai macam bahan-bahan yang bisa melengkapi kebutuhan Anda. Mulai dari bahan pangan hingga non pangan semuanya bisa Anda peroleh dengan cara yang mudah. Tunggu apa lagi? Segera lakukan pemesanan melalui website Global Solusi Ingredia.
Pastinya Anda sudah sering mendengar tentang jenis pengawet BHA dan BHT. Tidak jarang, makanan kemasan yang beredar di pasaran menambahkan zat aditif ini. Hal tersebut berguna untuk memberikan daya simpan pada makanan menjadi lebih lama. Namun adakah risiko yang diberikan dari mengkonsumsi makanan tersebut? Simak ulasan di bawah ini! Apa Sih Pengawet BHA dan BHT itu? Singkatan dari BHA yaitu butylated hydroxyanisole sedangkan BHT yaitu butylated hydroxytoluene . Kedua bahan ini merupakan zat antioksidan yang kandungannya menyerupai vitamin E. Biasanya kedua senyawa ini digunakan untuk melengkapi berbagai olahan makanan kemasan pada sebuah industri. Fungsi utamanya yaitu untuk memberikan bentuk pencegahan terhadap minyak dan lemak yang ada di dalam makanan untuk mudah teroksidasi. Makanan yang telah teroksidasi tentu akan menjadi tengik, oleh karena itu dengan adanya pengawet ini makanan bisa menjadi lebih lama untuk bisa teroksidasi. Baca juga: Ketahui 5 Perbedaan Ragi dan Emulsifier Tingkat Keamanan dalam Mengkonsumsi Setelah memahami akan pengertian pengawet BHA dan BHT, mungkin mulai muncul beberapa pertanyaan terkait dengan keamanannya. Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan memberikan ungkapan bahwa kedua jenis pengawet tersebut aman untuk digunakan dalam berbagai macam produk olahan. Baik itu di dalam produk makanan maupun olahan minuman. Sejumlah penelitian telah memberikan pendapatnya bahwa rata-rata penggunaan jumlah takaran dalam sebuah makanan, masih mampu ditolerir oleh tubuh manusia. Hal tersebut dikarenakan jumlah dosis yang digunakan tergolong sangat sedikit. Namun, apabila dalam konsuminya tidak sesuai dengan batas kewajaran, tentu akan menimbulkan berbagai macam reaksi buruk yang akan timbul. Bahkan dampak tersebut dapat memunculkan adanya interaksi dengan hormon steroid dan juga hormon kontrasepsi. Dengan demikian, dalam mengkonsumsi segala jenis makanan kemasan, sangat perlu untuk diperhatikan jumlah pengkonsumsiannya. Akan tetapi lebih baik lagi jika, Anda mengurangi pengkonsumsian olahan makanan yang menggunakan bahan pengawet. Jenis Makanan yang Mengandung BHA dan BHT Sangat banyak sekali jenis-jenis makanan yang menggunakan bahan pengawet ini. Selain digunakan untuk mencegah lemak pada makanan menjadi tengik, pengawet ini juga berguna untuk penghilang busa ragi di dalam bahan makanan. Biasanya BHA sering ditemukan di dalam sereal, mentega, daging, permen karet, bir, makanan ringan dan juga berbagai jenis olahan makanan panggang. Selain di dalam olahan makanan dan minuman, pengawet ini juga sering ditemukan pada pakan ternak, produk minyak bumi, kosmetik dan masih banyak lagi yang lainnya. Sedangkan pengawet jenis BHT sering dimanfaatkan pada sebuah industri makanan untuk memberikan warna, bau dan juga rasa makanan menjadi lebih awet. Jenis pengawet ini juga bisa Anda temukan di dalam produk makanan sereal, serta berbagai jenis makanan yang mengandung minyak dan lemak. Baca juga: 5 Bahan Alternatif Pengganti Emulsifier Dengan memberikan beragam jenis zat aditif ini, tentu akan memberikan hasil olahan makanan yang lebih tahan lama serta memberikan bentuk warna yang lebih menarik. Di dalam sebuah industri bahan pangan, tentu akan sangat memperhatikan tingkat ketahanan pangan yang diproduksinya. Demikian penjelasan singkat terkait dengan pengawet BHA dan BHT. Melengkapi berbagai olahan makanan dengan pengawet tentu dapat memberikan daya simpan yang lebih lama terhadap makanan tersebut. Apabila Anda ingin menggunakan pengawet untuk olahan makanan, Anda bisa mendapatkan bahan ini di PT Global Solusi Ingredia. Di sana tersedia sangat banyak sekali berbagai jenis pengawet yang tentunya aman dan telah lolos BPOM RI dan mendapat sertifikat halal dari MUI. Anda juga bisa menemukan beragam bahan-bahan pendukung lainnya yang bisa digunakan untuk bahan pelengkap pada suatu olahan makanan.
Pastinya Anda sudah sering mendengar tanaman rosemary bukan? Ya, tanaman ini mempunyai aroma khas yang biasa digunakan sebagai campuran obat-obatan herbal. Manfaat rosemary ini sangatlah banyak sekali di dalam dunia kesehatan. Apa saja manfaat tersebut? Simak ulasan berikut. Memberikan Pertumbuhan Pada Rambut Bagi Anda yang tengah mengalami kebotakan pada rambut, Anda dapat mengatasinya dengan tanaman rosemary ini. senyawa yang terkandung di dalam tanaman ini dipercaya mampu untuk menstimulasi pertumbuhan pada rambut. Terdapat beberapa penelitian yang telah membuktikan akan keberhasilan dari penggunaan minyak rosemary. Bahwa dengan menggunakan minyak ini secara rutin dalam 2 kali sehari selama 6 bulan lamanya dapat memberikan rambut bisa kembali tumbuh dengan tebal. Hal ini dikarenakan terdapat rangsangan yang diberikan oleh kandungan yang ada di dalam tanaman ini. Sehingga tanaman herbal ini telah dipercaya mampu untuk menumbuhkan rambut pada kepala manusia yang mengalami kebotakan. Baca juga: Daftar Pengatur Keasaman yang Aman Lolos BPOM Menjaga Kesehatan Otak Manfaat rosemary yang kedua yaitu dapat menjaga kesehatan pada otak. Hal ini dikarenakan adanya kandungan zat anti radang dan juga antioksidan di dalam rosemary. Dengan demikian, kandungan tersebut dapat meminimalisir penurunan daya ingat serta adanya gangguan konsentrasi. Selain itu, tanaman ini juga dapat membantu untuk melancarkan peredaran darah di dalam otak manusia. Bahkan tanaman ini juga dapat memelihara kesehatan seluruh sel-sel jaringan pada otak. Sehingga dapat tercegah dari penyakit Alzheimer dan demensia. Memelihara Kesehatan Mata Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa ekstrak rosemary dapat memelihara kesehatan pada mata. Bahkan ekstrak rosmary ini juga mampu untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit pada mata yang disebabkan karena penuaan. Kandungan antioksidan asam rosmarinic di dalam tanaman herbal ini juga dapat membantu untuk mencegah penyakit katarak. Selain itu, juga dapat menghambat perkembangannya agar tidak memberikan penyakit katarak menjadi lebih berat. Memberikan Tingkat Gula Darah yang Stabil Manfaat rosemary lainnya yaitu dapat menjaga kadar gula di dalam darah. Hal ini dikarenakan kandungan asam karnosik dan juga asam rosmarinic yang mempunyai efek menyerupai dengan hormon insulin. Dengan demikian, tanaman ini dianggap mampu untuk menjaga kdar gula di dalam darah agar tetap stabil. Akan tetapi, penggunaan tanaman herbal ini masih belum terdapat penelitian yang lebih lanjut untuk bisa menurunkan kadar gula dalam darah pada penderita diabetes. Alangkah lebih baik apabila Anda mengkonsultasikan terlebih dahulu penggunaan rosemary ini terhadap penderita diabetes. Membantu Memperbaiki Suasana Hati Penelitian yang telah dilakukan oleh studi profesional mengatakan bahwa tanaman herbal ini dapat memberikan relaksasi. Selain itu, tanaman ini juga mampu memperbaiki suasana hati dan juga meningkatkan kualitas tidur seseorang. Dengan demikian dapat menjadikan rosmary ini menjadi aromaterapi yang menenangkan. Meredakan Rasa Nyeri Minyak essential oil yang berasal dari rosemary dipercaya dapat membantu meredakan nyeri. Hal tersebut dikarenakan zat yang terkandung di dalamnya mempunyai kandungan zat anti radang. Baca juga: Mengetahui Berbagai Sumber Makanan yang Mengandung Vitamin E Zat tersebut dapat meringankan penyakit pada otot yang diakibatkan oleh nyeri sendi, krama tau mungkin nyeri pada saat menstruasi. Demikian manfaat rosemary di dalam dunia kesehatan. Tentunya dengan mengkonsumsi secara teratur sesuai dengan anjuran dokter Anda. Selain itu rosemary juga dapat digunakan sebagai campuran pada bumbu masakan. Makanan yang diberikan tambahan tanaman ini akan memberikan cita rasa yang khas. PT Global Solusi Ingredia menyediakan ekstrak rosemary dengan kualitas yang unggul. Anda bisa mendapatkannya GSI cukup dengan memesan melalui website dan kemudian Anda tinggal menunggu rosemary yang kaya manfaat sampai di alamat rumah Anda. Cukup mudah bukan?
Pada dasarnya ragi dan emulsifier merupakan bahan-bahan yang sering digunakan untuk membuat berbagai macam olahan makanan. Akan tetapi kedua bahan ini secara umum mempunyai beragam perbedaan. Apakah perbedaan ragi dan emulsifier itu? Berikut deretan perbedaan yang perlu Anda ketahui. Fungsi Perbedaan ragi dan emulsifier yang pertama yaitu ada pada fungsinya. Pada dasarnya, ragi berfungsi untuk salah satu sumber pematang pada sebuah adonan. Hal ini diberikan karena adanya reaksi dalam kandungan ragi yang bisa menghasilkan alkohol dan asam protein pada tepung terigu. Selain itu, kandungan secara fisik dapat memberikan peregangan pada kandungan protein di dalam tepung terigu. Sedangkan pada emulsifier fungsi utamanya yaitu untuk memberikan penguatan pada beberapa bahan dari kue seperti telur, minyak, cokelat dan bahan-bahan yang lainnya. Sehingga, dengan bercampurnya seluruh bahan tersebut dapat memberikan stabilitas pada adonan. Selain itu juga dapat membantu retensi dan aerasi air yang seragam, dengan demikian dapat memberikan hasil kue menjadi lebih maksimal. Baca juga: 5 Bahan Alternatif Pengganti Emulsifier Kandungan Pada dasarnya emulsifier mengandung beberapa bahan yang bisa mengabsorbsi antara minyak dan air. Kandungan yang ada di dalam emulsifier tersebut yaitu koloid hidrofil. Kandungan tersebut dapat membentuk lapisan multimolekuler di area global terdispersi. Sehingga minyak dan air di dalam adonan bisa menyatu dengan baik, dengan demikian emulsifier dapat memberikan hasil adonan yang lebih lembut dan juga gurih. Berbeda dengan ragi, jika kandungan yang ada di dalam ragi yaitu berupa bakteri dan fungi. Misalnya Rhizopus, Amylomyces, Lactobacillus dan bakteri yang lainnya. Bakteri tersebut merupakan jenis bakteri dan jamur yang bisa melakukan fermentasi terhadap makanan dengan baik. Cara Kerja Cara kerja pada kedua bahan ini tentu mempunyai perbedaan. Pada emulsifier tujuan utamanya untuk menyatukan lemak dan air di dalam adonan kue. Hal ini ditunjukkan dengan sifat emulsi yang cenderung hidrofilik dan lipofilik. Dengan demikian sifat tersebut dapat diartikan bahwa sama-sama menyukai air dan lemak di suatu kondisi yang sama. Sehingga dapat memungkinkan kedua bahan tersebut dapat menyatu dengan baik pada sebuah adonan kue. Jika dibandingkan dengan ragi, pada dasarnya ragi bertugas untuk mengubah komponen yang ada di dalam karbohidrat menjadi karbondioksida. Dengan karbondioksida inilah yang bisa membuat adonan kue menjadi mengembang. Hasil yang Diberikan Kue atau olahan makanan yang dilengkapi dengan ragi kebanyakan mengandung alkohol, misalnya pada tape, bir dan acar. Hal tersebut dihasilkan dari fermentasi yang telah terjadi pada saat proses pembuatan makanan dan minuman tersebut. Sedangkan olahan bahan makanan yang dilengkapi dengan emulsifier, dapat memberikan kestabilan bentuk pada saat proses pemanggangan. Hal ini karena kandungan lemak atau minyak seperti pada mentega, dapat bercampur bersama air dengan baik. Selain itu juga dapat memberikan hasil olahan makanan menjadi bertekstur lebih halus. Cara Penyimpanan Perbedaan ragi dan emulsifier yang terakhir ada pada cara penyimpanannya. Jika pada emulsifier, alangkah baiknya disimpan di dalam lemari pendingin. Apabila pada ragi, bentuk penyimpanannya menggunakan wadah yang cenderung lebih kedap terhadap udara. Baca juga: Yuk Cari Tahu Apa Saja Manfaat Sorbitol Sebagai Pemanis Buatan Untuk bisa memberikan ketahanan ragi menjadi lebih lama, penyimpanannya bisa dilakukan dengan meletakkannya di dalam freezer . Menyimpan ragi di dalam freezer dapat menghasilkan ragi tahan hingga 6 bulan lamanya. Itulah beberapa perbedaan ragi dan emulsifier yang perlu untuk Anda ketahui. Tentunya hal ini sangat berguna untuk Anda supaya tidak sampai salah dalam menggunakan bahan tambahan pada saat mengolah makanan. Kedua bahan ini bisa Anda peroleh dengan cara yang lebih mudah melalui PT Global Solusi Ingredia. Di sana Anda bisa mendapatkan berbagai macam bahan-bahan pendukung pada industri Anda. Bahkan perusahaan ini tidak hanya menyediakan kebutuhan bahan pangan saja, melainkan juga menyediakan berbagai jenis bahan non pangan yang dapat menunjang kebutuhan industri yang Anda miliki.
Pewarna makanan biru alami, selain memberikan warna yang cantik juga dapat dikonsumsi lebih aman. Biasanya pewarna makanan alami ini terbuat dari bahan dasar sayur dan juga buah yang mengandung polifenol. Ingin tahu bahan makanan apa saja yang bisa menghasilkan warna biru? Berikut pembahasan selengkapnya! Blueberry Tentunya buah yang satu ini sudah Anda ketahui bukan? Dengan rasanya yang enak tentu sangat nikmat apabila ditambahkan pada sebuah olahan makanan. Biasanya jus buah blueberry akan menghasilkan warna ungu, akan tetapi warna ungu tersebut dapat berubah menjadi biru apabila dicampur dengan frosting. Cara membuatnya pun sangat mudah, Anda hanya memeras buah ini dengan menggunakan kain. Jenis kain yang disarankan yaitu kain dengan bahan dasar katun tipis. Namun, apabila Anda ingin membuat pewarna biru dengan jumlah yang lebih banyak. Anda bisa menggunakan bantuan alat blender untuk meremasnya. Setelah diperas, Anda bisa menyaring hingga terpisah dengan ampas buah. Apabila Anda menginginkan warna biru yang cenderung lebih ungu, Anda bisa merebusnya terlebih dahulu hingga air dari jus blueberry berkurang. Baca juga: Kenali Produk dari Produsen Bahan Makanan Sehat yang Layak Dikonsumsi Cornflower Biru Pewarna makanan biru alami yang selanjutnya yaitu pada cornflower biru. Bunga ini merupakan salah satu jenis bunga yang bisa dikonsumsi secara langsung. Biasanya cornflower digunakan sebagai pelengkap pada salad sayur atau untuk mempercantik pada sebuah makanan. Rasa yang diberikan pada bunga ini cenderung lebih lembut layaknya rumput. Dengan demikian, bunga ini lebih cocok untuk dijadikan pewarna alami pada makanan dibandingkan dengan dijadikan sebagai makanan. Bubuk Spirulina Bubuk spirulina yang terbuat dari ganggang biru dapat Anda manfaatkan untuk membuat pewarna biru alami pada sebuah makanan. Warna biru yang dihasilkan cenderung lebih terang. Kubis Merah Red cabbage atau kubis merah juga bisa digunakan untuk menghasilkan pewarna biru. Hal ini diperoleh melalui sari kubis yang dicampur dengan baking soda. Akan tetapi membutuhkan trik khusus untuk bisa membuat warna biru dari kubis merah ini. Caranya yaitu dengan memasak kubis di dalam air yang mendidih. Kemudian campurkan 1 sendok teh baking soda untuk bisa merubahnya dari warna ungu menjadi warna biru. Setelah itu, rebus kembali hingga air tersebut berkurang hingga setengahnya atau mungkin lebih. Untuk bisa menghasilkan warna yang lebih intens, Anda bisa mendinginkan terlebih dahulu. Akan tetapi warna biru ini bisa berubah menjadi ungu kembali apabila terkena bahan-bahan yang mengandung asam. Dengan demikian, Anda bisa menghindari bahan-bahan yang mengandung asam pada adonan makanan. Baca juga: 6 Sumber Vitamin D yang Penting Untuk Hindari Penyakit Osteoporosis Bunga Telang Bunga telang atau istilah lainnya yaitu butterfly pea flower merupakan bahan alami yang biasa digunakan masyarakat Indonesia sebagai bahan untuk teh. Selain itu, bunga ini juga digunakan sebagai pewarna makanan biru alami untuk berbagai olahan makanan tradisional. Bahkan, bunga ini tidak hanya digunakan oleh masyarakat Indonesia saja, melainkan hingga seluruh Asia sering memanfaatkan bunga ini untuk bahan pewarna. Akan tetapi, bunga ini bisa berubah warna menjadi warna ungu cerah apabila terkena kandungan asam yang tinggi. Demikian, bahan pewarna makanan biru alami yang bisa Anda gunakan untuk mempercantik berbagai olahan makanan yang Anda buat. Apabila Anda ingin memperoleh berbagai macam pewarna alami. Anda bisa memperolehnya di PT Global Solusi Ingredia. GSI menyediakan banyak sekali berbagai macam pewarna alami yang bisa Anda gunakan. Tentunya dengan kualitas bahan yang sangat baik. Bahkan harga yang ditawarkan pun juga tergolong lebih terjangkau.
Terdapat banyak sekali alternatif pengganti Emulsifier, umumnya emulsifier ini terbuat dari hewan, tumbuhan, serta bahan sintetis. Biasanya, emulsifier digunakan sebagai bahan tambahan pada saat membuat olahan makanan seperti mayonaise dan es krim. Lalu, apa saja alternatif yang bisa digunakan untuk mengganti emulsifier ini? Berikut diantaranya! Transglutaminase Transglutaminase merupakan salah satu enzim yang dapat mengkatalisis dalam pembentukan ikatan isopeptida. Ikatan tersebut dibentuk antara glutamin dan juga asam amino. Transglutaminase atau yang biasa disebut dengan TGase ini biasanya diproduksi secara komersial melalui fermentasi tradisional. Bakteri yang digunakan yaitu mikroorganisme Streptoverticillium mobaraense. Karena bahan ini bersifat Ca 2+ yang independent, maka pada proses pengaktifannya tidak memerlukan kofaktor yang khusus. Baca juga: Industri Bahan Makanan Fungsional Termodifikasi Lecithin Bahan alternatif pengganti emulsifier yang kedua yaitu Lecithin. Bahan ini terbuat dari kedelai yang mengandung beberapa zat yang bisa melembapkan serta meningkatkan tekstur pada makanan. Zat yang terkandung di dalamnya yaitu bersifat lipofilik dan juga hidrofilik. Kedua bahan tersebut sama-sama bisa tersuspensi menjadi lemak dan air dalam waktu yang bersamaan. Kemampuan untuk memadukan lemak dan air lah yang membuat Lecithin ini dapat bersifat sebagai pengemulsi. Dikarenakan kandungan pada adonan kue terdapat campuran minyak dalam air. Maka adonan yang ditambahkan dengan bahan ini akan sama seperti ditambahkan emulsifier. Apabila ingin menggunakan Lesitin dengan berbasis telur, Anda bisa menambahkan kuning telur secara satu per satu ke dalam campuran mentega dan gula. Kemudian, Anda bisa mengocoknya secara konstan sehingga adonan tercampur rata. Bahan Lecithin yang khusus digunakan untuk olahan makanan panggang biasanya berbentuk cair. Akan tetapi ada juga Lecithin yang berbentuk butiran-butiran. Hydrocolloids Hydrocolloids ini biasa disebut dengan istilah gum. Gum adalah bahan polimer b hidrofilik yang bisa terbuat dari bahan hewani, nabati, mikroba maupun bahan sintetis. Bahan ini hadir secara alami ketika digunakan untuk membuat olahan masakan. Bahkan bahan ini juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk mengontrol sifat fungsional yang ada pada bahan makanan berair. Gum akan memberikan penebalan, mengikat serta memberikan tekstur kental pada adonan hingga membentuk layaknya gel. Guar Gum Bahan alternatif pengganti emulsifier lainnya yaitu Guar gum. Bahan ini merupakan hidrokolik non-ionik yang bisa larut di dalam air dingin. Bahan ini menjadi salah satu alternatif yang bisa memberikan penebalan pada adonan makanan, namun dengan biaya yang lebih hemat. Karena harga Guar gum ini cenderung lebih murah, maka di dalam sebuah industri, biasanya menggunakan bahan ini untuk memberikan tekstur adonan yang lebih kental. Baca juga: Emulsifier Alami? Ada Kok, Cek di Sini Plant Protein Protein merupakan salah satu bahan emulsifier yang berperan penting di dalam proses emulsi makanan. Hal ini dikarenakan sifat permukaannya dapat bertindak sebagai pengemulsi dengan membentuk film atau kulit pada area tetesan minyak. Oleh karena itu, bahan ini dapat mencegah perubahan struktural seperti pembentukan, sedimentasi dan perpaduan. Baik itu ekstrak protein kedelai maupun isolate protein kedelai, keduanya sama-sama bisa berfungsi sebagai pengemulsi yang baik. Nah, itulah beberapa bahan alternatif pengganti emulsifier yang bisa Anda gunakan untuk menciptakan olahan makanan menjadi lebih lembut. Apabila Anda bingung untuk bisa menemukan pengganti emulsifier ini. Anda bisa mendapatkannya di PT Global Solusi Ingredia, perusahaan ini menyediakan banyak sekali berbagai macam bahan pengganti emulsifier. Bahkan Anda juga bisa menemukan berbagai macam bahan-bahan kebutuhan industri pangan maupun non pangan.